Pengetahuan hidup , Komputer , Internet , Artikel , Sistem Operasi , Software , Jaringan dan masih banyak lagi.
Thursday, May 21, 2009
Kisah 5 Ekor Monyet
2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara
bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam
ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut
nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan
oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan
tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A
yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah
tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset
dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian
berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya
monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya
menyerah pula.
Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah,
para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka
naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik
oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak
mengalami `kesialan' seperti mereka. Karena dicegah terus dan
diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas,
monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah
mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama
seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan
pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan
langsung mencegah keduanya agar tidak naik. "Hai, mengapa kami
tidak boleh naik ?" protes keduanya".
Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya.
Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman
saja, jangan keatas deh" jelas monyet C.
Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan
monyet E yang memang bandel. "Saya ingin tahu, bahaya seperti
apa sih, yang ada di atas ….. Dan kalau ada bahaya, masak iya saya
tidak bisa menghindarinya ?" tegas monyet E. Walaupun sudah
dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik …….
Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi,
monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya….…..
Kisah Pencuri Impian
sangat menonjol dibanding dengan rekan-2nya, sehingga dia seringkali
menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir,
dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti
dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari
di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang
yang memberi tepuk tangan kepadanya.
Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal
dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan
dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis
muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan
sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan
menjadi muridnya.
Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai
sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si
gadis muda bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas
dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ?
Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya". "Oke,
menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.
Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu
berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang
pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia
langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya
sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak
ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu
tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia
bersumpah tidak pernah akan lagi menari.
Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan
tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi
keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut
jalan.
Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu.
Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang
panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih.
Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari
tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang
panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya
kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan
kemudian mereka bercerita secara akrab.
Si ibu bertanya ", Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di
hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda
bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat
itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja,
tanpa mengatakan sepatah katapun ?".
"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah
melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu
akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu
tiba-2 berhenti dari dunia tari", jawab sang pakar.
Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini
tidak adil", seru si ibu muda. "Sikap anda telah mencuri semua
impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda
meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit.
Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja.
Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi
pelayan toko !".
Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak …. Tidak, saya
rasa saya telah berbuat dengan benar. ANDA TIDAK HARUS MINUM ANGGUR
SATU BAREL UNTUK MEMBUKTIKAN ANGGUR ITU ENAK. Demikian juga saya.
Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda
bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka
sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan
berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda
sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan,
bahwa ANDA MESTINYA FOKUS PADA IMPIAN ANDA, BUKAN PADA UCAPAN ATAU
TINDAKAN SAYA.
Lalu pujian ? Kamu mengharapkan pujian ? Ah, waktu itu kamu sedang
bertumbuh. PUJIAN ITU SEPERTI PEDANG BERMATA DUA. ADA KALANYA
MEMOTIVASIMU, BISA PULA MELEMAHKANMU. Dan faktanya saya melihat bahwa
sebagian besar PUJIAN YANG DIBERIKAN PADA SAAT SESEORANG SEDANG
BERTUMBUH, HANYA AKAN MEMBUAT DIRINYA PUAS DAN PERTUMBUHANNYA
BERHENTI. SAYA JUSTRU LEBIH SUKA MENGACUHKANMU, AGAR HAL ITU BISA
MELECUTMU BERTUMBUH LEBIH CEPAT LAGI. Lagipula, pujian itu
sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. TIDAK PANTAS ANDA
MEMINTA PUJIAN DARI ORANG LAIN".
"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya
anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap
menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.
MUNGKIN ANDA SAKIT HATI PADA WAKTU ITU, TAPI SAKIT HATI ANDA AKAN
CEPAT HILANG BEGITU ANDA BERLATIH KEMBALI. TAPI SAKIT HATI KARENA
PENYESALAN ANDA HARI INI TIDAK AKAN PERNAH BISA HILANG SELAMA-LAMANYA
……..".
Kisah Dua Orang Pasien
dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya
menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di
tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk
mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat
tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang
ada di kamar itu.
Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas
punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama
berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan,
keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah
mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat
jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan
tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya.
Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan
bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan
warna-warna indah yang ada di luar sana.
"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang
indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan
anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang
dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah
pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki
langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela
Dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata
membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi
lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu.
Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah. Pada
suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan
tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua
tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya
melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu
dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu
pun berlalu.
Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat
Untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat
jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.
Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk
memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta
pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat
jendela itu.
Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan
segala sesuatu ya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi
seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk
bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela
itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati
semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan
kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya?
Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang
Membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah
melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.
Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang
buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata
perawat itu
dari the-acesia
Semur Tahu Buatan Ibu
"Mak, lapar mak..." seorang anak kecil, belum sembilan tahun. Rambut
kumal dan pakaian lusuhnya nyaris mengelabui mataku untuk sekejap
melihat tubuhnya yang kurus, juga mata cekungnya.
"Lapar?... nih cari makan dulu, baru bisa makan..." bentak sang ibu
sambil melemparkan sebuah alat musik terbuat dari botol Yakult yang
diisi pasir, yang biasa dipakai para pengamen jalanan.
Saya jadi ingat masa sekolah dulu. Ibu selalu memaksaku untuk sarapan
sebelum berangkat sekolah. Ibu selalu khawatir saya jatuh pingsan lagi
di sekolah gara-gara tidak sempat sarapan. Itu belum cukup, meski
sekolahku cuma sampai pukul 11.00 WIB, ibu masih memasukkan dua
tangkap roti lapis mentega bertabur coklat atau selai kacang kesukaanku.
Tapi, tidak jarang saya katakan sama ibu kalau saya malu membawa
makanan ke sekolah, "Saya kan laki-laki bu, cuma anak perempuan yang
membawa makanan ke sekolah. Lagipula..."
"Ah sudah bawa saja. Disuruh makan saja susah, apalagi disuruh
kerja...," sela ibu tanpa bisa kubantah lagi.
Sudah hampir empat puluh menit saya masih di Pasar Minggu, tak jauh
dari tempat tadi.
"Mak, kok dari kemarin makannya nasi uduk melulu. Beli ayam dong,
Diding kan pengen makan ayam..."
"Orang susah kok pengen makan ayam Ding, bapakmu kan cuma tukang
sampah. Masih sukur ada yang bisa kita makan," ujar sang ibu sambil
menyuapi anaknya yang lain. Juga dengan nasi uduk.
Saya menghela nafas panjang. Kemudian bayangan masa kuliah saya pun
melintas. Saya masih ingat setiap kali ibu selalu setia menyiapkan
makan untuk anaknya ini sebelum berangkat ke kampus. Tapi yang sering
kulakukan...
Nasi goreng sosis lengkap dengan cabai bawang iris sering tak
tersentuh hingga sore. Sekembalinya saya dari kampus, masih tertata
rapih di meja makan, tapi pasti sudah dingin.
Setangkap roti berlapis selai kacang, ditambah segelas susu coklat
selalu terbuang percuma karena hanya kucuil sedikit. Kubayangkan wajah
ibu termenung sambil menatap sisa roti dan susu coklat utuh yang tak
lagi hangat.
Dan entah berapa banyak lagi makanan yang terbuang sia-sia. Anehnya,
ibu tak pernah berhenti untuk tetap setia menyiapkan makanan kesukaan
anaknya ini.
Selepas Ashar. Di depan pelayan sebuah restoran cepat saji.
"Silahkan pak, makan di sini atau dibungkus..."
Belum sempat kupesan makanan, kubuka SMS yang masuk,
... dari ibu, "Pulang ke rumah ibu nggak? Ibu masak semur tahu
kesukaan kamu nih. Sudah dua pekan lho kamu nggak pulang."
***
Di luar restoran. Saya panggil beberapa anak jalanan dan membagikan
uang seharga satu paket ayam plus segelas softdrink kepada mereka.
Oleh : Bayu G.
Kado Istimewa
kampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan di
sekolah, sehingga saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah
untuk mereka-reka berapa uang jajan si Adi, apa yang selalu dibeli
Rena, atau memperhatikan nikmatnya es doger di tangan Sukma. Bahkan
untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekali pun ibu tak
melakukannya.
Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin di atas
kue tart yang selalu saya saksikan di setiap perayaan ulang tahun
Rommy, Hilda, juga Siska. Tidak ada balon, hiasan khas ulang tahun,
dan yang pasti, tidak mungkin saya berharap ada kado ulang tahun.
Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado.
"Ibu yang akan kasih kamu kado..." sapa ibu mengagetkan lamunanku.
Sejenak kemudian saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa
yang akan diberikan ibu. Sampai akhirnya, sebuah doa terajut dari
mulutnya disertai kecupan hangat di kening dan pipiku.
Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran
darahku. Doa ibu, jauh lebih indah dari hiruk pikuk tepuk tangan, tak
bisa dibandingkan dengan kue tart termahal sekalipun. Lilin merah
dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak seindah doa
ibu. Untaian kalimat pinta yang dirajut ibu, bahkan lebih sempurna
dari gaun ulang tahun milik siapapun.
Kehangatan kecupan ibu jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat
dari siapapun. Tak ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu
menandinginya, kecupan ibu adalah kado termahal yang pernah kuterima.
Kemarin, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya
menangis karena dua sebab, kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat
di lutut kanan, dan kemudi sepeda saya bengkok. Bapak segera
mengangkat sepeda sementara ibu langsung mendekapku. Tak ragu, ibu
mengusap air mataku dan memberikan satu kecupan pada luka di kakiku.
Kecupan ibu juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari
pertama sekolah. Mulanya saya takut, mungkin ini juga yang dirasakan
setiap anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Dalam pandanganku,
bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga meja belajar itu lebih
mirip makhluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan teman-teman baru
itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi, dengan
sekali kecupan di ubun-ubunku, ibu berkata, "Masuklah, anak ibu kan
jagoan..."
Selang sepekan hari sekolah, tepat di pekan kedua, seharusnya saya
kembali masuk sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak
kunjung reda di pagi harinya. Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu,
sedih juga karena tak bertemu teman-teman baik di kelas, dan yang
paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran di
kelas. Namun ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat di
pinggir tempat tidurku sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman
terjaga menungguku, memberiku obat, mendengarkan setiap keluhanku,
membetulkan selimutku dan mendekapku erat saat tubuh ini menggigil
kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalam.
Kini, saya sadari, doa dan kecupan ibu lah kado yang paling kuharapkan
di setiap hari ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran ibu senantiasa
lebih kuinginkan dari sekadar ratusan undangan lengkap dengan ratusan
kadonya.
Bagi saya, ibu adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima
kasih Allah yang masih memberikan kesempatan saya untuk bersama ibu di
hari terindah ini. Dan saya selalu berharap, di tahun depan ibu masih
tetap menjadi kado istimewa.
Ibu, Semakin kumengerti hadirmu
Oleh : Bayu Gautama
Configuring Virtual IP Address in Solaris
Follow the three simple steps that will help you to configure virtual IP address :
Edit the /etc/hosts file and add additional IP addresses, along with the associated hostname. For example : To add 192.168.0.1 (web1) and 192.168.0.2 (web2) to the system, enter in the following manner.
192.168.0.1 web1
192.168.0.2 web2
The system needs to be configured for the newly added IP addresses.
Create the startup files so that the system will automatically add the new IP addresses upon bootup.
a. Create new files in the /etc directory. The file names should follow the following convention according to the new ip address added.
hostname.hme0:1
hostname.hme0:2
b. The contents of these files will be a single line with the respective hostname entered. For example:
| File Name | Contents |
|---|---|
| hostname.hme0:1 hostname.hme0:2 | web1 web2 |
The file "hostname.hme0:1" will contain "web1" and "hostname.hme0:2" will contain "web2".
If you look in the "/etc" directory, you will find a file named "hostname.hme0" (which is the real interface, the :n represents the virtual interface). In this file, you will find the name of your system. If you look in the "/etc/hosts" file, you will find your IP address.
Now you have configured virtual IP address for two new interfaces that you have added ( .hme0:1 and .hme0:2 .
To activate this virtual IP address, you have to provide the following commands :
# ifconfig hme0:1 plumb
# ifconfig hme0:2 plumb
The system startup in Solaris searches the "/etc" directory for files named "hostname.*". When it finds one or more of these files, it reads the hostname from them, looks up the hostname in the "/etc/hosts" file for a match, and if found, configures the interface with the IP address of the match.
Please re-boot your system for the virtual IP address to be configured in your system.
(OR)
To configure the interface without re-starting the system, use the "ifconfig" command. To add the two IP addresses, type:
# ifconfig hme0:1 192.168.0.1 up
# ifconfig hme0:2 192.168.0.2 up
After having issued these two commands, the system would recognize the new IP addresses immediately, without re-booting the system.
Configuring Virutal IP addresses
The procedure to configure multiple virtual IP addresses in Windows NT is given below. This procedure can be performed only by an user with admin privilege.
Click on the Start Menu on the Taskbar and choose Control Panel.
Double-click Network among the components displayed in the Control Panel. This opens up a Network dialog with 5 tabs.
Choose the Protocols tab and click on TCP / IP Protocol from listed protocols.
Click on Properties button when TCP / IP Protocol is selected.
This brings up the Microsoft TCP / IP properties dialog ; choose IP Address tab.
Click the Advanced button ; this will bring the Advanced IP addressing with the Adapter Name shown above the configured IP addresses in your system.
Click Add to display the TCP/ IP Address dialog. Specify IP Address and the corresponding Subnet Mask.
Re-start the system for the changes to take effect.
The procedure to configure virtual IP addresses in bulk under Windows XP/2000/ME is given below. This procedure can be performed only by an user with admin privilege.
Click on the Start Menu and choose Settings.
Among the listed items select Network and Dial-up connections.
Select Local area connection from the items under Network and Dial-up connections ; this opens with the general information on Local area connection status.
Click on the Properties button. The Local area connection properties dialog opens listing all the protocols.
Choose Internet Protocol ( TCP / IP ) and click on the Properties button.
The Internet Protocol TCP / IP Properties dialog is invoked. Click on the Advanced button at the bottom of the dialog. The Advanced TCP / IP settings dialog displays all the configured IP addresses in your system.
Click Add button next to the displayed IP addresses to add an IP address with a corresponding sub-net mask.
You will have to re-start the system for the changes to take effect.
Configuring Virtual IP Address in bulk under Windows 2000
The procedure to configure virtual IP addresses in bulk under Windows 2000 is given below. This procedure can be performed only by an user with admin privilege.
Select Start ->Run and type regedt32 in the run dialog ( or you can type it on the DOS prompt) .
This will bring up the Registry Editor - HKEY_LOCAL_MACHINE on Local Machine screen.
Choose the HKEY_LOCAL_MACHINE on the tree displayed on the left hand side.
Choose the path : HKEY_LOCAL_MACHINE -> System -> CurrentControlSet -> Services > NetBT -> Parameters -> Interfaces. Here, you will find a series of Tcpip_{labels} under Interfaces, an example is shown below: Tcpip_{2B34C0C3_FCA8_486C_8559_989429901786}
Select all the Tcpip_{labels} listed to check if the right hand side data content which has Netbios Options:REG_DWORD :0x1 and make a note of this Tcpip_{ label } .
Search for this label under HKEY_LOCAL_MACHINE ->System -> CurrentControlSet -> Services -> Tcpip -> Parameters -> Interfaces. Here, you will find the same Tcpip_{label } (that you had noted down in point 5). When you select this, the right side data content will display IP address and properties.
Double click on the IP address field . This opens a Multi-String editor where the virtual IP addresses you want have to be keyed in. You can cut and paste to minimise the time for large number of IPs .
When you have finished entering the IP addresses, select the subnetmask field ( 255.255.255.0) in the right hand side. This opens a Multi-String editor where the subnetmask you want have to be keyed in. Enter the same number of subnetmasks(255.255.255.0) as the number of IPs.
You will have to re-start the system for the changes to take effect.
Now you should be able to ping these virtual IP addresses. Also, make sure that there are no conflicts in the network ( i.e the virtual IP you have configured is not already being used by some other user).
Configuring Virtual IP Address in Windows in DHCP mode
The procedure to configure virtual IP addresses in windows with DHCP mode is the same as Configuring Virtual IP Address in bulk under Windows 2000.
Configuring Virtual IP Address in Linux
Invoke the linuxconf tool. ( type linuxconf in the shell prompt and press Enter ). For starting this tool you have to be logged in as Super user.
In the displayed menu, select the menu item : IP Aliases for virtual hosts and press Enter. This will display the two interfaces eth0 and lo. (Ethernet interfaces in Linux are called by such names as eth0 and eth1)
Select eth0 and press Enter. This will show all the IP aliases configured for the selected interface.
In the field IP alias or range, enter the desired IP address or the range with a corresponding Netmask.
Example
IP alias or range : 177.177.177.1-25
Netmask : 255.255.255.0
These commands have to be executed with the super user privilege.
You will have to re-start the system for the changes to take effect.
When you are configuring a large number of IP address, it might take a long time to boot up.
| | Note: |
Using the following command, we can configure Virtual IPs in the Linux box at run-time without re-booting the machine or re-starting the network.
ifconfig eth0:1 172.19.1.2 netmask 255.255.255.0 up
ifconfig eth0:3 172.19.1.3 netmask 255.255.255.0 up
The interface number must be unique for each interface (for example eth0:1, eth0:2 etc). The same interfaces can be made down by using the following command.
ifconfig eth0:1 172.19.1.2 netmask 255.255.255.0 down
ifconfig eth0:3 172.19.1.3 netmask 255.255.255.0 down
Popular Posts
-
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bers...
-
Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasr...